“Everything, in retrospect, is obvious. But if everything were obvious, authors of histories of financial folly would be rich . . .”

— Michael Lewis (Panic!: The Story of Modern Financial Insanity, 2009)

Whole-Foods-market-buy-sell-stocks

Belakangan ini publik kerap disuguhi pemberitaan atas prediksi, ramalan serta analisis mengenai ekonomi dan pasar keuangan baik lewat media tradisional ataupun jejaring sosial. Informasi tersebut kemudian tersebar lebih jauh melalui aplikasi chatting yang kini umum di smartphone. Walau bervariasi, namun terdapat persamaan yang menonjol: ekstrim dan cenderung bombastis. Sebagai contoh prediksi atas ancaman berulangnya krisis 1998, pelemahan nilai tukar rupiah yang angkanya mencapai langit, hingga ramalan akan suatu peristiwa besar di Oktober yang akan mengguncang hebat pasar keuangan.

Pemberitaan tersebut selain kontroversial, celakanya juga memicu keresahan dan ketakutan terutama diantara mereka yang awam bagi topik-topik tersebut. Banyak pertanyaan, diskusi hingga perdebatan terjadi baik di jalur privat maupun sosial tentang hal tersebut, hingga adanya bukti anekdotal akan dampaknya pada sikap serta respons publik yang berlebihan dan mencerminkan kepanikan.

Memprediksi itu manusiawi

Melakukan prediksi sesungguhnya merupakan hal alami bagi manusia. Prefrontal cortex pada otak diketahui secara kontinu melakukan prediksi sebagai bagian dari mekanisme fight or flight yang membantu umat manusia survive dalam lintasan evolusi. Keengganan akan ketidakpastian masa depan, lebih jauh menyebabkan aktivitas prediksi melekat dalam kehidupan sehari-hari. Sherden (1998) dalam “Fortune Sellers: The Big Business of Buying and Selling Predictions” menyebutkan bahwa aktivitas memprediksi sesungguhnya merupakan profesi tertua kedua di dunia. Bukti historis menyatakan praktek tersebut telah dilakukan kurang lebih sejak 5000 tahun lalu.

Kegiatan prediksi hadir dalam berbagai ruang kehidupan: cuaca, demografi hingga ekonomi dan keuangan.  Tetapi mungkin karena peristiwa yang diramalkan serta  konsekuensinya pada umumnya dapat dirasakan dan berpengaruh pada aspek kehidupan masyarakat terutama aspek finansial, kegiatan ramal-meramal di bidang finansial dan ekonomi lebih sering membuat heboh. Karena itu kita jarang melihat kegaduhan yang timbul soal prakiraan cuaca, prediksi populasi maupun ramalan bintang seseorang.

Mengkritisi prediksi

Terlepas dari citra yang dibentuk dari narasi melalui media, akurasi prediksi di ranah ilmu sosial semisal ekonomi dan keuangan sesungguhnya rendah, kalau tidak dapat dikatakan buruk. Oleh pakar sekalipun. Paling tidak demikian yang dinyatakan Tetlock (2005) dalam “Expert Political Judgment: How Good Is It? How Can We Know?” bahwa akurasi dari “pakar dan komentator” yang prediksi dan komentarnya kerap dikutip media atau diliput TV, terutama yang bombastis, tidak lebih baik dibanding masyarakat biasa. Lebih jauh Silver (2012) dalam “The Signal and The Noise: Why So Many Predictions Fail-but Some Don’t” menegaskan kalau bukti empiris menunjukkan ramalan pakar mengenai indikator ekonomi dan keuangan tidaklah lebih baik dari peluang lemparan koin. Bahkan saat ini ketika kecepatan dan kecanggihan teknologi pemrosesan informasi berkontribusi terhadap peningkatan akurasi prediksi di bidang tertentu yang terbantu dengan peningkatan processing power seperti prakiraan cuaca, akurasi dalam prediksi ekonomi dan keuangan tetaplah rendah.

Hal ini tentu bukan hal yang mengejutkan mengingat sistem ekonomi dan pasar keuangan sesungguhnya merupakan suatu sistem yang kompleks dan bersifat adaptif (Mauboussin, 2002) dimana interaksi dan dampak bersifat nonlinear dan dinamis. Dalam sistem yang kompleks, setiap event dan dampaknya berbeda satu dengan yang lain. Sebabnya antara lain karena pelaku (agent) dalam sistem sesungguhnya manusia yang jamak berperilaku jauh dari rasional dan kerap didasari bias psikologis.

Kajian Denrell dan Fang (2010) menemukan bahwa akurasi prediksi bombastis dan ekstrim lebih merupakan kebetulan belaka secara statistik apabila seluruh prediksi yang dihasilkan oleh pelaku secara umum kerap bersifat ekstrim dan bombastis. Seperti halnya jam yang rusak dan tidak berfungsi, dalam 24 jam pun bisa tepat dua kali. Karena itu walaupun prediksi-prediksi bombastis tersebut pernah terbukti benar dan akurat, hal tersebut tidak mencerminkan kemampuan prediksi yang baik namun sebaliknya indikasi dari kemampuan (dan proses) yang buruk.

Insentif terbesar dari mengeluarkan prediksi yang bombastis terdiri atas beberapa faktor. Pertama karena umumnya prediksi yang negatif, seram, bersifat bencana dan besar lebih diingat publik. Hal kedua prediksi yang bombastis memiliki payoff yang asimetris, dimana keuntungan apabila prediksinya benar jauh lebih besar namun sebaliknya kerugian apabila salah bisa sangat rendah. Yang terakhir lingkungan, media (dan insentif kepopuleran apabila terbukti benar) mendorong perilaku dan partisipasi mereka, termasuk publik yang cenderung pelupa.

Kemudian apa akibatnya bagi publik apabila setiap saat dibombardir oleh prediksi-prediksi bombastis semacam itu baik melalui media tradisional dan sosial?

Prediksi penebar takut

Dalam konteks komunikasi publik apapun motif sebenarnya, sengaja ataupun tidak prediksi bombastis dapat dikategorikan sebagai bagian dari narasi penebar takut (narrative of fear mongering): mempengaruhi tindakan dengan ketakutan dan kepanikan. Menurut Glassner (2004) terdapat tiga teknik dalam pembentukan narasi penebar takut: repetisi, penggambaran kejadian terisolasi sebagai bagian dari suatu tren serta pengalihan (misdirection). Tujuan akhir yang tercapai bisa bermacam-macam: propaganda, disinformasi, hingga semata keuntungan komersial untuk menjual media, air time, maupun produk serta jasa tertentu.

Masyarakat dan publik yang panik bertindak jauh dari perilaku rasional, apalagi di pasar keuangan dimana efek irasional oleh masyarakat investor dapat menjelma jadi positive feedback bagi amplifikasi gonjang-ganjing pasar keuangan. Di tingkat individu maupun entitas, kepanikan seperti juga keserakahan (greed) dapat mensabotase tujuan investasi. Perilaku demikian hanya menghasilkan aksi beli mahal dan jual murah (buy high, sell low).

Karena itu masyarakat harus lebih bijak untuk selalu bersikap kritis terhadap pendapat dan prediksi walaupun berasal dari individu yang populer, dikenal sebagai pakar ataupun sekedar punya follower yang banyak di media sosial, dan utamanya kalau prediksi tersebut bersifat ekstrim dan terdengar bombastis.

PS: Sebagai konteks post ini aslinya saya tulis pada akhir Agustus bagi media cetak.