Beberapa waktu lalu di timeline saya dengan handle @tigorsiagian ada pertanyaan mengenai pemilihan investasi melalui reksa dana. Pertanyaan yang to the point:

Tweet Pertanyaan @huanglaoshi

Tweet Pertanyaan @huanglaoshi

Secara spontan jawaban saya saat itu (dengan alasan fundamental yang tentunya membutuhkan tulisan tersendiri) adalah Index. Namun yang membuat saya tertarik adalah pertanyaan susulan yang membandingkan biaya pembelian (dalam tweet disebut biaya masuk) atau yang dikenal sebagai load atau selling fee dalam membandingkan dua pilihan investasi: reksa dana indeks (RDI) dan reksa dana saham (RDS) biasa.

Walaupun salah satu keunggulan dalam pengelolaan investasi melalui index fund adalah unsur biaya (costs) yang rendah, namun pertimbangan memilih RDI vs RDS dengan secara spesifik merujuk pada biaya pembelian adalah hal yang baru (at least menurut saya pribadi). Biasanya biaya yang dirujuk dalam pengelolaan reksa dana adalah total biaya yang terdiri atas biaya pengelolaan (management fee), biaya pembelian (selling fee), biaya jasa penitipan pada bank kustodian, biaya penjualan kembali (redemption fee) serta biaya agen penjual. Untuk biaya yang terakhir, terdapat perlakuan yang berbeda diantara manajer investasi (MI). Sepengetahuan saya walau mayoritas MI mengurangkan biaya untuk agen penjual dari biaya pengelolaan namun beberapa MI mendisclose pembagian tersebut secara eksplisit dalam prospektus RD mereka. Dari informasi yang saya baca di media dan informasi dari beberapa rekanan MI, porsi biaya agen penjual sekitar 40-50% dari biaya pengelolaan.

Dari total biaya tersebut, biaya penjualan kembali (redemption fee) dan biaya pembelian hanya dibebankan sekali setiap penjualan kembali (redemption) atau saat pembelian. Malah untuk beberapa MI, biaya penjualan kembali dapat menjadi 0% seiring dengan semakin lamanya waktu holding period hingga investor melakukan penjualan (redemption). Semakin lama investor memegang RD tersebut, biasanya semakin rendah biaya penjualan kembali yang dibebankan. Hal ini konon untuk meng-encourage investor untuk melakukan investasi jangka panjang. Sementara itu biaya-biaya lain seperti biaya pengelolaan, biaya agen penjual serta biaya jasa penitipan pada bank kustodian dibebankan setiap tahun selama investor memegang RD tersebut. Karena itu membandingkan kedua jenis reksa dana dengan menggunakan feature biaya pembelian yang hanya dibebankan sekali pada saat pembelian terasa kurang relevan bagi suatu model investasi yang diuntungkan oleh biaya yang rendah yang dibebankan secara berulang (recurrence) setiap tahun. Secara teknis, kalau kita mengerti prinsip compounding, maka dapat dikatakan bahwa biaya yang terakhir itulah yang akan mengurangi return dari investasi kita, secara signifikan, dibandingkan dengan biaya yang hanya dibebankan sekali.

Namun, yang tetap menggelitik buat saya adalah kenapa pertimbangan terhadap biaya pembelian menjadi salah satu unsur dalam memilih antara RDI dan RDS menyiratkan telah terjadi fenomena yang dikenal dalam behavioral finance sebagai mental accounting. Secara umum mental accounting merupakan perilaku investor yang membedakan secara mental pos-pos biaya dan pendapatan, dan berperilaku mengambil keputusan berdasarkan pemisahan “account” secara mental tersebut.  Walau secara rasional keseluruhan “pengeluaran dan pendapatan” secara netto merupakan total harta atau total wealth dari investor tersebut.

Contoh perilaku mental accounting adalah keputusan investor untuk menempatkan uang investasi pada deposito yang hanya menghasilkan return 5% p.a. nett walau pada saat yang sama investor tersebut juga memiliki utang kartu kredit dengan total tagihan sebesar 35% p.a. Secara rasional investor tersebut akan menjadi lebih baik (better off) apabila menarik deposito tersebut dan kemudian melunasi utang kartu kredit. Karena walaupun kehilangan pendapatan sebesar 5% investor tersebut juga sekaligus menghilangkan kewajiban pembayaran utang sebesar 35%, atau investor tersebut better off sebesar kurang lebih 30% p.a. Dengan kata lain investor tersebut mendapatkan guaranteed return sebesar 30% with no risk hanya dengan melunasi utang tersebut! Terus kenapa banyak investor secara irasional melakukan hal-hal seperti demikian? Karena investor-investor tersebut secara mental mengklasifikasikan deposito sebagai “account” investasi atau tabungan sementara tagihan kartu kredit sebagai “account” pengeluaran, dan karenanya keduanya terpisah dan tidak dapat “direconcile”. Pengeluaran harus berasal dari “account” pengeluaran dan pendapatan harus berasar dari “account” pendapatan.

Iceberg of Costs

Iceberg of Costs: What You Don’t See Will Crush Your Returns

Sementara itu dalam konteks pertanyaan yang akan kita jawab terkait biaya pembelian versus biaya-biaya lain yang lebih relevan dalam investasi pada reksa dana, dugaan saya terjadinya mental accounting disebabkan oleh struktur biaya dan pengelompokkannya dalam model pengelolaan reksa dana di Indonesia saat ini.

Dalam prospektus RD umumnya dijelaskan bahwa biaya-biaya tersebut dikelompokkan secara terpisah yaitu: 1) biaya yang ditanggung pemegang Unit Penyertaan (UP), yaitu biaya pembelian (selling fee), biaya penjualan kembali (redemption fee) dan biaya pengalihan (switching fee) apabila ada serta 2) biaya yang dibebankan kepada Reksa Dana dimaksud yaitu: biaya pengelolaan, biaya bank kustodian, biaya agen penjual, biaya transaksi (termasuk pajak), biaya jasa profesi (akuntan, konsultan hukum dan notaris) serta biaya pajak yang terkait atas biaya-biaya jasa tersebut.

Sepertinya disinilah sumber masalahnya, yaitu biaya-biaya yang dibebankan kepada Reksa Dana (fund) bersangkutan dibebankan dan dihitung secara proporsional serta mengurangi return dari aset underlying reksa dana tersebut namun “tidak terlihat” oleh investor karena hasil Nilai Aktiva Bersih (NAB) dari reksa dana yang digunakan sebagai referensi perhitungan return merupakan hasil netto terhadap biaya-biaya tersebut. Sedangkan selling fee maupun redemption fee atau switching fee dibebankan terhadap initial investment dan hasil investasi (dalam kasus redemption atau switching). Karena NAB yang diterima oleh investor pada dasarnya adalah return dari asset dikurangi biaya yang dibebankan kepada Reksa Dana, maka seharusnya perhitungan dampak biaya terhadap return yang seharusnya diterima oleh investor bermula dari return aset sebelum dikurangi biaya-biaya tersebut.

Pengelompokan biaya tersebut, secara struktur dan karenanya juga secara mental oleh investor, ibarat gunung es dari biaya (iceberg of costs) seperti diilustrasikan pada gambar di atas. Pada iceberg of costs tersebut investor hanya “melihat” selling fee dan redemption fee sebagai biaya yang “langsung berdampak” pada mereka namun melupakan bagian terbesar dari total iceberg of costs yang tersembunyi di bawah permukaan dalam bentuk biaya pengelolaan, biaya agen penjual, transaction costs dan tax yang secara keseluruhan dapat menenggelamkan “kapal Titanic” investasi mereka.

Untuk mengilustrasikan dampak dari total biaya-biaya tersebut, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, dan tentu saja untuk menjawab pertanyaan awal di atas terkait dampak biaya pembelian (selling fee) saya coba membuat perhitungan dengan Excel spreadsheet sederhana (file dapat didownload disini) yang pada intinya coba membuktikan (dengan asumsi tertentu) bahwa dampak biaya pembelian (selling fee) memiliki dampak yang sangat-sangat-sangat minimal terhadap total biaya investasi yang “memakan” return investasi anda. Biaya terbesar yang dibebankan setiap tahun, dan karenanya memiliki dampak compounding adalah biaya pengelolaan (Management Fees) serta biaya agen penjual (Agents Fees). Perlu diingat pula sebagaimana diutarakan di atas bahwa walaupun suatu MI tidak membebankan biaya agen penjual secara eksplisit, namun prakteknya jasa terhadap agen penjual tersebut dikurangkan dari “jatah” MI dari pembebanan biaya pengelolaan.

Spreadsheet yang saya buat tersebut seharusnya self-explanatory dan dapat digunakan untuk bereksperimen melakukan simulasi dengan merubah input-input data investasi seperti nilai investasi awal, jangka waktu, dan expected return dari aset (benchmark atau index bukan dari expected return dari pengelolaan oleh MI/alpha). Selain itu juga dapat diubah input struktur biaya dari RD bersangkutan yang termasuk didalamnya biaya pengelolaan, biaya agen penjual, biaya jasa bank kustodian, biaya pembelian serta biaya penjualan kembali. Tampilan spreadsheet tersebut sebagaimana di bawah ini.

Spreadsheet Simulasi Dampak Biaya Terhadap Return Investasi

Spreadsheet Simulasi Dampak Biaya Terhadap Return Investasi

Pada spreadsheet tersebut juga terdapat sheet “summary“, dalam bentuk static walau dapat dibuatkan link, untuk perbandingan antara dua RD (RDS vs RDI). Perhitungan dilakukan dengan asumsi nilai awal investasi masing-masing sebesar Rp 100 juta, jangka waktu investasi 15 tahun dan expected return dari aset sebesar 18% p.a. Penamaan pada dua RD tersebut semata-mata untuk memudahkan pembedaan struktur biaya. RDS diasumsikan mengenakan biaya pengelolaan 2.5%, biaya jasa bank kustodian 0.5% dan biaya agen penjual 2% dengan total expense ratio sebesar 5%. Selain itu diasumsikan (sesuai pertanyaan) biaya pembelian tidak ada (karena jangka waktu investasi lebih dari 3 tahun) dan biaya redemption sebesar 0.5%. Di sisi lain RDI mengasumsikan biaya pengelolaan 1%, biaya jasa bank kustodian 0.2% dan biaya agen penjual 0% dengan total expense ratio sebesar 1.2%. Disamping itu RDI membebankan biaya pembelian (selling fee) sebesar 2% (sesuai pertanyaan awal). Sebagai informasi, struktur biaya di atas tersebut merupakan besaran biaya yang dibebankan secara aktual saat ini di pasaran dan karena itu merupakan struktur biaya yang realistis.

Dari summary sebagaimana tabel di bawah dapat dilihat bahwa struktur biaya masing-masing RD menggerus expected return sebesar 18% dan menyebabkan return aktual dari asset (yang diterima investor via NAB) turun secara drastis menjadi masing-masing 12.10% (RDS) dan 16.64% (RDI). Secara persentase, total biaya yang “hilang” dari return yang seharusnya diterima oleh investor sebesar (lo and behold) 53.67% (RDS) dan 18.45% (RDI) untuk jangka waktu investasi selama 15 tahun (sesuai pertanyaan awal di tweet).

Perbandingan RDS vs RDI

Perbandingan Dampak Struktur Biaya Terhadap Return Aktual RDS dan RDI

Walaupun esensi fundamental mengenai mengapa pengelolaan pasif lebih baik dibandingkan pengelolaan aktif akan diuraikan dalam tulisan khusus secara tersendiri, dengan perhitungan ini dapat dikatakan bahwa dengan asumsi struktur biaya tersebut maka dibutuhkan “extra return” dari MI yang mengelola RDS secara aktif sebesar 5.9% setiap tahun selama 15 tahun hanya untuk menyamakan return dari aset (alpha/excess return = 0)! Hal tersebut belum termasuk “extra return” tambahan lain dalam bentuk excess return (selisih return RDS terhadap return benchmark/assets) atau alpha untuk menjustifikasi biaya pengelolaan (serta expense ratio) tinggi yang dibebankan oleh MI.

Akhir kata: NO, selling fee is nothing compared to what management fee and agent fee will cost you in long term. Pengelolaan investasi memiliki tiga dimensi: return, risk dan cost, hanya hal terakhir yang berada dibawah kendali kita sebagai investor. Karena dua yang lain bersifat tidak pasti, maka satu-satunya cara yang reliable untuk memastikan tujuan investasi kita tercapai adalah dengan melakukan pengendalian biaya dalam pengelolaan investasi.

Salam investasi (halah).