TIGORSIAGIAN.COM

Risk, Return and Everything in Between

Category: Mutual Funds

Kalau Bocor mbok ya Ditambal …

Seperti sudah diperkirakan, reaksi pembaca atas blog post saya ini cukup ramai. Dari yang “membela atau mati” RDS tertentu, berargumentasi dengan alasan yang kurang jelas, hingga yang “sadar” dan langsung praktek membandingkan attractiveness RDS berdasarkan expense ratio.

Salah satu yang masuk dalam kelompok terakhir, S. Deta Harvianto (@sdetta), pada 16 Maret 2013 men-twitpic chart berikut yang dibuat via situs Bloomberg:

Tweet @sdetta

Figure. 1. Tweet @sdetta

Chart tersebut pada intinya menampilkan grafik return setahun (Maret 2012 – Maret 2013) dari Reksa Dana SCHISTI:IJFORSOLA:IJ serta IHSG sebagai benchmark. Dalam tweet disebutkan bahwa kedua RDS tersebut memiliki expense ratio yang cukup berbeda, yaitu 4.25% (SCHISTI) dan 2.75% (FORSOLA). Perbedaannya keduanya cukup besar dimana expense ratio SCHISTI:IJ  lebih tinggi 1.50% dari FORSOLA:IJ, atau sekitar 55% dari expense ratio FORSOLA:IJ.

Schisti vs Forsola vs IHSG

Graph 1. Return 1 Tahun SCHISTI:IJ, FORSOLA:IJ dan IHSG

Pada chart di atas terlihat return kumulatif setahun (asumsi saya berdasarkan informasi pada chart) FORSOLA:IJ secara konsisten berada diatas SCHISTI:IJ walau relatif lebih fluktuatif dibandingkan IHSG. Pada akhir periode juga dapat dilihat bahwa return kumulatif 1 tahun FORSOLA:IJ mengungguli baik SCHISTI:IJ maupun IHSG sebagai benchmark. Berdasarkan informasi Bloomberg, per 18 Maret 2013, return setahun masing-masing adalah SCHISTI:IJ (15.15%), FORSOLA:IJ (21.84%) dan IHSG (19.22%). Dengan kata lain FORSOLA:IJ dalam 1 tahun terakhir berhasil outperformed IHSG sebagai benchmark dengan excess return atau alpha sebesar 2.62% serta memiliki selisih positif terhadap peer SCHISTI sebesar 6.69%, after cost basis (net setelah biaya-biaya).

Dengan informasi tersebut, (excess return dan expense ratio) sepertinya FORSOLA:IJ kok kayak “free lunch“? Emang sih ga gratis, tapi dengan biaya (expense ratio) yang lebih rendah kok return malah lebih tinggi? Jangan-jangan “too good to be true“?

CAVEAT EMPTOR (let the buyer beware)

Pertama-tama ada baiknya kita mulai dengan caveat, atau peringatan (warning/caution) atas konklusi dari observasi yang kita lakukan di atas. Menurut saya setidaknya ada dua caveat yang perlu jadi perhatian:

  1. IHSG bisa saja bukan benchmark yang tepat untuk dibandingkan dengan kedua RDS tersebut. Keadaan ini disebut sebagai benchmark misfit, dimana benchmark yang digunakan tidak sesuai dengan policy mix atau kebijakan investasi dari RD dimaksud. Dari informasi Bloomberg, keduanya merupakan RD dengan kelas saham (equity), namun memiliki objective tertulis yang berbeda. FORSOLA:IJ menyebutkan country fund Indonesia sedangkan SCHISTI:IJ memilih objective growth-small cap. Dari objective tersebut terlihat bahwa FORSOLA:IJ memiliki objective yang relatif sesuai dengan IHSG yaitu broad diversified, sedangkan SCHISTI:IJ lebih fokus dan concentrated pada saham-saham jenis tertentu. Walau demikian, sepengetahuan saya style pengelolaan untuk RDS di Indonesia belum terlalu rigid mengikuti suatu objectives tertentu serta belum ada mekanisme yang jelas untuk pengawasan dari sisi compliance terhadap objectives. Untuk menghilangkan misfit ini, mitigasinya dapat dilakukan dengan memilih benchmark yang lebih sesuai. Pemilihan dapat dilakukan dengan menganalisis lebih lanjut menggunakan style analysis terhadap alternatif benchmark lain yang mungkin lebih pas. Namun demikian, saya menganggap risiko misfit ini kecil untuk kedua RDS dalam pengamatan dan karenanya IHSG dapat dianggap sebagai benchmark yang cukup fair. Dari informasi di Bloomberg pun terlihat bahwa beta dari SCHISTI:IJ lebih rendah dibandingkan FORSOLA:IJ, sesuatu yang kurang konsisten dengan interpretasi objectives di atas.
  2. Return setahun terakhir merupakan return yang sudah terjadi (historis). Saya pribadi setuju dengan alasan ini, return historis dari suatu investasi hanya relevan untuk mereka yang memiliki investasi tersebut dalam rentang yang sama, sebagai feedback. Bagi investor yang belum memiliki kedua RDS tersebut return historis merupakan hal yang tidak relevan, karena nilai tambah investasi bagi investor hanya didapatkan pada masa investasi di masa depan, bukan indikator return yang sudah terjadi. Tentu saja akan ada yang berargumentasi bahwa return historis tersebut menunjukkan kemampuan manajer investasi (MI) dalam mengelola RDS dan karenanya dapat menjadi petunjuk (insight) bagi pencapaian kinerja di masa yang akan datang. Namun tidak seperti dalam environment lain dimana cause dan effect jelas, dalam investasi hubungan tersebut tidak terlalu jelas (clear). Karena itu informasi historis tidak banyak membantu dalam memprediksi kinerja masa depan (excess return of manager). Para MI pun sangat sadar dengan hal ini, makanya dalam setiap presentasi selalu ada disclaimer bahwa “kinerja historis tidak merefleksikan kinerja masa depan.” Seandainya pun hubungan tersebut jelas dan terdapat korelasi yang kuat antara kemampuan manager secara historis dan kinerja masa depan, maka data historis selama setahun menurut saya terlalu pendek untuk secara signifikan menyimpulkan skill MI.

Terus, apabila kita dapat menerima bahwa IHSG merupakan benchmark yang fair serta data return historis yang terlalu pendek dan/atau tidak memiliki kemampuan prediktif untuk kinerja MI di masa depan, bagaimana kemudian kita menjelaskan atau setidaknya meletakkan perbedaan kinerja jangka pendek tersebut dalam konteks perbedaan tingkat expense ratio diantara kedua RDS sebagaimana tweet di atas?

RETURN = BETA + ALPHA – COST

Menurut  studi terkenal yang dilakukan oleh Gary P. Brinson, L. Randolph Hood, and Gilbert L. Beebower, Determinants of Portfolio Performance, dalam The Financial Analysts Journal, July/August 1986 atau yang lebih dikenal dengan singkatan BHB (1986), return portfolio dapat diatribusikan atas 3 factor yaitu policy mix atau asset allocation, timing serta market selection. Dua faktor terakhir, timing dan market selection dikelompokkan sebagai alpha dan dianggap merupakan hasil dari kemampuan (skill) manajer investasi dalam menentukan waktu yang tepat untuk berdeviasi dari alokasi benchmark (timing) serta pemilihan saham yang tepat (securities selection).

Insight penting dari studi BHB (1986) adalah asset allocation dianggap dapat menjelaskan lebih dari 90% dari volatility return portfolio, dimana  sisanya diatribusikan ke  market timing dan securities selection. Dalam figure 2 di bawah saya coba Ilustrasikan atribusi return portfolio menurut BHB (1986).

Figure 2. Atribusi Return Portfolio menurut Brinson, Hood dan Beebower (1986)

Figure 2. Atribusi Return Portfolio menurut Brinson, Hood dan Beebower (1986)

Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa total return reksa dana yang diterima dan dinikmati oleh investor (bagian (5) di ujung paling kanan) merupakan hasil dari total return portfolio (1) yang terdiri atas (2) dan (3), dikurangi costs (4). Total return dari portfolio yang dikelola oleh MI (1) terbagi atas 2 bagian, yaitu asset allocation/beta (2) serta excess return/alpha (3). Sementara excess return tersebut juga terdiri atas 2 bagian: timing dan securities selection. Jadi sebagaimana blog post saya sebelumnya, dari gambar di atas dapat dilihat bahwa hasil yang diterima oleh investor akan selalu lebih rendah dari kinerja yang dihasilkan portfolio.

Sementara itu policy mix atau asset allocation atau yang lebih sering disebut sebagai beta adalah return yang dihasilkan apabila portfolio diinvestasikan sesuai dengan benchmark/index. Karena untuk mereplikasi suatu index tidak membutuhkan skill yang njelimet, riset, trading (yang meningkatkan transaction cost dan pajak), serta faktor pendukung lainnya maka return dari asset allocation atau beta ini seharusnya murah dan karenanya dapat dihasilkan dengan biaya yang minimal. Return dari asset allocation tentu saja bisa positif dan juga negatif, tergantung return dari masing-masing asset class yang dialokasikan pada suatu RD.

Sedangkan excess return sebagaimana namanya adalah selisih return yang dihasilkan oleh MI diatas (outperformed) atau dibawah (underperformed) return benchmark/index. Excess return inilah yang menjadi objective dari setiap MI yang melakukan pengelolaan aktif (active management). Tujuan ini biasanya disebut sebagai usaha untuk beat the market/index (mengalahkan pasar yang diwakili oleh index). Jadi secara singkat dapat dikatakan tujuan setiap MI aktif  memberikan “hasil lebih” diatas hasil benchmark dengan melakukan strategi atau teknik tertentu dalam pengelolaan investasi.

Karena “hasil lebih” tersebut tidak mudah untuk dicapai dan membutuhkan tenaga analis, riset, sistem, model, Bloomberg terminal dan segala macam pendukungnya, maka pengelolaan untuk mencapai “hasil lebih” ini harus dibayar lebih mahal dalam bentuk biaya pengelolaan (management fee) yang lebih tinggi. Dengan kata lain, MI ingin mengatakan “ada uang, ada barang/hasil”, biaya murah dapatnya return benchmark, mau lebih maka investor harus mau membayar lebih mahal.

Namun harus diingat, yang namanya usaha, ya pasti bisa positif juga (malah sering) negatif. Sama juga dengan excess return ini, bisa positif dan bisa negatif. Kalau dari contoh dengan dua RDS tersebut dapat dikatakan untuk periode satu tahun FORSOLA:IJ menghasilkan excess return positif sedangkan SCHISTI:IJ sebaliknya menghasilkan excess return negatif terhadap IHSG. In fact, menurut  @KontanNews, secara average RDS di Indonesia pada tahun 2012 underperformed terhadap IHSG (10.06% vs 12.94%).

AS SIMPLE AS 1 = 2 + 3 – 4

Dari pembahasana di atas kita tahu tidak ada kepastian bagi investor untuk menerima suatu hasil investasi entah dari beta ataupun alpha. Seperti sering dikatakan bahwa tidak ada kepastian di dunia ini selain kematian dan pajak, dalam dunia investasi tidak ada yang pasti kecuali biaya. Right? 

Apabila kita sepakat dengan hal tersebut maka dari formulasi return di atas dapat dikatakan bahwa setiap investor (1)  RDS terpapar (exposed) pada tiga unsur: (2) return dari asset allocation (yang nilainya tidak pasti), (3) return dari kemampuan MI untuk “beat the market” (yang nilainya tidak pasti) serta (4) biaya investasi (yang nilainya pasti). Dalam persamaan sederhana maka return yang dapat dinikmati oleh setiap investor (1) = (2) + (3) – (4). [ajaib ya, hasilnya benar 1 = 1!] :)

Karena unsur (2) dan (3) bersifat tidak pasti (volatilitas return), maka untuk setiap investor yang bertujuan untuk memaksimalkan return (ya eyalah) yang setara dengan benchmark (2) plus “bonus”(3) dengan dikurangi oleh biaya (4), maka usaha yang paling rasional untuk dilakukan tentunya adalah meminimalkan biaya (4), karena biaya merupakan sesuatu yang pasti dan berada dalam kendali kita.

Jadi terlepas di kubu mana anda berada pada perdebatan soal skill MI dan bagaimana memilih MI yang skillful serta apakah data historis kinerja MI bisa menjadi unsur untuk memprediksi kinerja masa depan, satu hal yang sudah pasti anda dapat memaksimalkan peluang mendapatkan return yang anda terima dengan meminimalkan biaya investasi dengan memilih MI yang memiliki expense ratio rendah. Jadi seperti kendaraan yang berjalan tidak optimal dengan ban yang bocor, sama juga investasi anda tidak akan bisa optimal selama masih ada “kebocoran” return karena biaya-biaya yang bisa dihindari. Sama seperti ban mobil anda kalau bocor, mbok ya lekas ditambal…

Bagaimana dengan Anda?

PS: Salam Investasi, atau cuan, atau apalah…

Pilih Mana: Reksa Dana dengan atau tanpa Biaya Penjualan?

Beberapa waktu lalu di timeline saya dengan handle @tigorsiagian ada pertanyaan mengenai pemilihan investasi melalui reksa dana. Pertanyaan yang to the point:

Tweet Pertanyaan @huanglaoshi

Tweet Pertanyaan @huanglaoshi

Secara spontan jawaban saya saat itu (dengan alasan fundamental yang tentunya membutuhkan tulisan tersendiri) adalah Index. Namun yang membuat saya tertarik adalah pertanyaan susulan yang membandingkan biaya pembelian (dalam tweet disebut biaya masuk) atau yang dikenal sebagai load atau selling fee dalam membandingkan dua pilihan investasi: reksa dana indeks (RDI) dan reksa dana saham (RDS) biasa.

Walaupun salah satu keunggulan dalam pengelolaan investasi melalui index fund adalah unsur biaya (costs) yang rendah, namun pertimbangan memilih RDI vs RDS dengan secara spesifik merujuk pada biaya pembelian adalah hal yang baru (at least menurut saya pribadi). Biasanya biaya yang dirujuk dalam pengelolaan reksa dana adalah total biaya yang terdiri atas biaya pengelolaan (management fee), biaya pembelian (selling fee), biaya jasa penitipan pada bank kustodian, biaya penjualan kembali (redemption fee) serta biaya agen penjual. Untuk biaya yang terakhir, terdapat perlakuan yang berbeda diantara manajer investasi (MI). Sepengetahuan saya walau mayoritas MI mengurangkan biaya untuk agen penjual dari biaya pengelolaan namun beberapa MI mendisclose pembagian tersebut secara eksplisit dalam prospektus RD mereka. Dari informasi yang saya baca di media dan informasi dari beberapa rekanan MI, porsi biaya agen penjual sekitar 40-50% dari biaya pengelolaan.

Dari total biaya tersebut, biaya penjualan kembali (redemption fee) dan biaya pembelian hanya dibebankan sekali setiap penjualan kembali (redemption) atau saat pembelian. Malah untuk beberapa MI, biaya penjualan kembali dapat menjadi 0% seiring dengan semakin lamanya waktu holding period hingga investor melakukan penjualan (redemption). Semakin lama investor memegang RD tersebut, biasanya semakin rendah biaya penjualan kembali yang dibebankan. Hal ini konon untuk meng-encourage investor untuk melakukan investasi jangka panjang. Sementara itu biaya-biaya lain seperti biaya pengelolaan, biaya agen penjual serta biaya jasa penitipan pada bank kustodian dibebankan setiap tahun selama investor memegang RD tersebut. Karena itu membandingkan kedua jenis reksa dana dengan menggunakan feature biaya pembelian yang hanya dibebankan sekali pada saat pembelian terasa kurang relevan bagi suatu model investasi yang diuntungkan oleh biaya yang rendah yang dibebankan secara berulang (recurrence) setiap tahun. Secara teknis, kalau kita mengerti prinsip compounding, maka dapat dikatakan bahwa biaya yang terakhir itulah yang akan mengurangi return dari investasi kita, secara signifikan, dibandingkan dengan biaya yang hanya dibebankan sekali.

Namun, yang tetap menggelitik buat saya adalah kenapa pertimbangan terhadap biaya pembelian menjadi salah satu unsur dalam memilih antara RDI dan RDS menyiratkan telah terjadi fenomena yang dikenal dalam behavioral finance sebagai mental accounting. Secara umum mental accounting merupakan perilaku investor yang membedakan secara mental pos-pos biaya dan pendapatan, dan berperilaku mengambil keputusan berdasarkan pemisahan “account” secara mental tersebut.  Walau secara rasional keseluruhan “pengeluaran dan pendapatan” secara netto merupakan total harta atau total wealth dari investor tersebut.

Contoh perilaku mental accounting adalah keputusan investor untuk menempatkan uang investasi pada deposito yang hanya menghasilkan return 5% p.a. nett walau pada saat yang sama investor tersebut juga memiliki utang kartu kredit dengan total tagihan sebesar 35% p.a. Secara rasional investor tersebut akan menjadi lebih baik (better off) apabila menarik deposito tersebut dan kemudian melunasi utang kartu kredit. Karena walaupun kehilangan pendapatan sebesar 5% investor tersebut juga sekaligus menghilangkan kewajiban pembayaran utang sebesar 35%, atau investor tersebut better off sebesar kurang lebih 30% p.a. Dengan kata lain investor tersebut mendapatkan guaranteed return sebesar 30% with no risk hanya dengan melunasi utang tersebut! Terus kenapa banyak investor secara irasional melakukan hal-hal seperti demikian? Karena investor-investor tersebut secara mental mengklasifikasikan deposito sebagai “account” investasi atau tabungan sementara tagihan kartu kredit sebagai “account” pengeluaran, dan karenanya keduanya terpisah dan tidak dapat “direconcile”. Pengeluaran harus berasal dari “account” pengeluaran dan pendapatan harus berasar dari “account” pendapatan.

Iceberg of Costs

Iceberg of Costs: What You Don’t See Will Crush Your Returns

Sementara itu dalam konteks pertanyaan yang akan kita jawab terkait biaya pembelian versus biaya-biaya lain yang lebih relevan dalam investasi pada reksa dana, dugaan saya terjadinya mental accounting disebabkan oleh struktur biaya dan pengelompokkannya dalam model pengelolaan reksa dana di Indonesia saat ini.

Dalam prospektus RD umumnya dijelaskan bahwa biaya-biaya tersebut dikelompokkan secara terpisah yaitu: 1) biaya yang ditanggung pemegang Unit Penyertaan (UP), yaitu biaya pembelian (selling fee), biaya penjualan kembali (redemption fee) dan biaya pengalihan (switching fee) apabila ada serta 2) biaya yang dibebankan kepada Reksa Dana dimaksud yaitu: biaya pengelolaan, biaya bank kustodian, biaya agen penjual, biaya transaksi (termasuk pajak), biaya jasa profesi (akuntan, konsultan hukum dan notaris) serta biaya pajak yang terkait atas biaya-biaya jasa tersebut.

Sepertinya disinilah sumber masalahnya, yaitu biaya-biaya yang dibebankan kepada Reksa Dana (fund) bersangkutan dibebankan dan dihitung secara proporsional serta mengurangi return dari aset underlying reksa dana tersebut namun “tidak terlihat” oleh investor karena hasil Nilai Aktiva Bersih (NAB) dari reksa dana yang digunakan sebagai referensi perhitungan return merupakan hasil netto terhadap biaya-biaya tersebut. Sedangkan selling fee maupun redemption fee atau switching fee dibebankan terhadap initial investment dan hasil investasi (dalam kasus redemption atau switching). Karena NAB yang diterima oleh investor pada dasarnya adalah return dari asset dikurangi biaya yang dibebankan kepada Reksa Dana, maka seharusnya perhitungan dampak biaya terhadap return yang seharusnya diterima oleh investor bermula dari return aset sebelum dikurangi biaya-biaya tersebut.

Pengelompokan biaya tersebut, secara struktur dan karenanya juga secara mental oleh investor, ibarat gunung es dari biaya (iceberg of costs) seperti diilustrasikan pada gambar di atas. Pada iceberg of costs tersebut investor hanya “melihat” selling fee dan redemption fee sebagai biaya yang “langsung berdampak” pada mereka namun melupakan bagian terbesar dari total iceberg of costs yang tersembunyi di bawah permukaan dalam bentuk biaya pengelolaan, biaya agen penjual, transaction costs dan tax yang secara keseluruhan dapat menenggelamkan “kapal Titanic” investasi mereka.

Untuk mengilustrasikan dampak dari total biaya-biaya tersebut, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, dan tentu saja untuk menjawab pertanyaan awal di atas terkait dampak biaya pembelian (selling fee) saya coba membuat perhitungan dengan Excel spreadsheet sederhana (file dapat didownload disini) yang pada intinya coba membuktikan (dengan asumsi tertentu) bahwa dampak biaya pembelian (selling fee) memiliki dampak yang sangat-sangat-sangat minimal terhadap total biaya investasi yang “memakan” return investasi anda. Biaya terbesar yang dibebankan setiap tahun, dan karenanya memiliki dampak compounding adalah biaya pengelolaan (Management Fees) serta biaya agen penjual (Agents Fees). Perlu diingat pula sebagaimana diutarakan di atas bahwa walaupun suatu MI tidak membebankan biaya agen penjual secara eksplisit, namun prakteknya jasa terhadap agen penjual tersebut dikurangkan dari “jatah” MI dari pembebanan biaya pengelolaan.

Spreadsheet yang saya buat tersebut seharusnya self-explanatory dan dapat digunakan untuk bereksperimen melakukan simulasi dengan merubah input-input data investasi seperti nilai investasi awal, jangka waktu, dan expected return dari aset (benchmark atau index bukan dari expected return dari pengelolaan oleh MI/alpha). Selain itu juga dapat diubah input struktur biaya dari RD bersangkutan yang termasuk didalamnya biaya pengelolaan, biaya agen penjual, biaya jasa bank kustodian, biaya pembelian serta biaya penjualan kembali. Tampilan spreadsheet tersebut sebagaimana di bawah ini.

Spreadsheet Simulasi Dampak Biaya Terhadap Return Investasi

Spreadsheet Simulasi Dampak Biaya Terhadap Return Investasi

Pada spreadsheet tersebut juga terdapat sheet “summary“, dalam bentuk static walau dapat dibuatkan link, untuk perbandingan antara dua RD (RDS vs RDI). Perhitungan dilakukan dengan asumsi nilai awal investasi masing-masing sebesar Rp 100 juta, jangka waktu investasi 15 tahun dan expected return dari aset sebesar 18% p.a. Penamaan pada dua RD tersebut semata-mata untuk memudahkan pembedaan struktur biaya. RDS diasumsikan mengenakan biaya pengelolaan 2.5%, biaya jasa bank kustodian 0.5% dan biaya agen penjual 2% dengan total expense ratio sebesar 5%. Selain itu diasumsikan (sesuai pertanyaan) biaya pembelian tidak ada (karena jangka waktu investasi lebih dari 3 tahun) dan biaya redemption sebesar 0.5%. Di sisi lain RDI mengasumsikan biaya pengelolaan 1%, biaya jasa bank kustodian 0.2% dan biaya agen penjual 0% dengan total expense ratio sebesar 1.2%. Disamping itu RDI membebankan biaya pembelian (selling fee) sebesar 2% (sesuai pertanyaan awal). Sebagai informasi, struktur biaya di atas tersebut merupakan besaran biaya yang dibebankan secara aktual saat ini di pasaran dan karena itu merupakan struktur biaya yang realistis.

Dari summary sebagaimana tabel di bawah dapat dilihat bahwa struktur biaya masing-masing RD menggerus expected return sebesar 18% dan menyebabkan return aktual dari asset (yang diterima investor via NAB) turun secara drastis menjadi masing-masing 12.10% (RDS) dan 16.64% (RDI). Secara persentase, total biaya yang “hilang” dari return yang seharusnya diterima oleh investor sebesar (lo and behold) 53.67% (RDS) dan 18.45% (RDI) untuk jangka waktu investasi selama 15 tahun (sesuai pertanyaan awal di tweet).

Perbandingan RDS vs RDI

Perbandingan Dampak Struktur Biaya Terhadap Return Aktual RDS dan RDI

Walaupun esensi fundamental mengenai mengapa pengelolaan pasif lebih baik dibandingkan pengelolaan aktif akan diuraikan dalam tulisan khusus secara tersendiri, dengan perhitungan ini dapat dikatakan bahwa dengan asumsi struktur biaya tersebut maka dibutuhkan “extra return” dari MI yang mengelola RDS secara aktif sebesar 5.9% setiap tahun selama 15 tahun hanya untuk menyamakan return dari aset (alpha/excess return = 0)! Hal tersebut belum termasuk “extra return” tambahan lain dalam bentuk excess return (selisih return RDS terhadap return benchmark/assets) atau alpha untuk menjustifikasi biaya pengelolaan (serta expense ratio) tinggi yang dibebankan oleh MI.

Akhir kata: NO, selling fee is nothing compared to what management fee and agent fee will cost you in long term. Pengelolaan investasi memiliki tiga dimensi: return, risk dan cost, hanya hal terakhir yang berada dibawah kendali kita sebagai investor. Karena dua yang lain bersifat tidak pasti, maka satu-satunya cara yang reliable untuk memastikan tujuan investasi kita tercapai adalah dengan melakukan pengendalian biaya dalam pengelolaan investasi.

Salam investasi (halah).

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén