Tertinggal Pesta?

Indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia per Jumat hari ini 15 Oktober 2021 ditutup di angka 6.633.34. Acuan utama bursa saham tersebut sedikit lagi mencapai angka tertinggi sepanjang masa apabila mampu melampaui titik 6.660,62, angka tertinggi yang pernah dicapai pada 26 Januari 2018.

Penutupan di Jumat tersebut menandakan kenaikan sebesar lebih dari 2.400 poin atau 58% dari lembah keterpurukan pada 20 Maret 2020 di awal pandemi COVID-19. Sebagaimana bursa lain di dunia pada saat itu, IHSG ikut longsor sebesar -37% apabila dibandingkan titik tertinggi atau -33% jika dihitung sejak awal tahun 2020.

Tidak, saya tidak ingin membahas angka dan statistik pasar modal. Saya cuma membangun konteks atas kabar baik yang saya pribadi yakini merupakan bagian dari sinyal pemulihan ekonomi dari dampak pandemi. Namun, walau hal tersebut merupakan berita menggembirakan tapi tentu tetap ada sekumpulan orang yang tidak sempat menikmati hal ini. Tertinggal pesta.

Paling tidak ada tiga kelompok.

Kelompok pertama tentu mereka yang tidak tertarik akan saham sebagai kelas aset. Dengan alasan apa saja. Yang umum karena tidak familiar dan takut akan risiko. Untuk mereka, tentu tidak ada penyesalan.

Sementara kelompok kedua adalah mereka yang mengerti akan keunggulan saham dalam alokasi aset investasi serta memilih untuk berinvestasi melalui reksa dana saham.

Loh, kalau beli reksa dana saham seharusnya ikut menikmati kenaikan dong, begitu mungkin pertanyaan di benak anda. Bagi mereka ini ada dua kemungkinan.

Pertama reksa dana saham yang mereka miliki dikelola secara aktif untuk mengungguli IHSG sebagai benchmark atau indeks. Strategi paling alami untuk lebih baik dari indeks tentu saja dengan berperilaku berbeda. Paling tidak memiliki alokasi saham yang berbeda dibandingkan indeks yang diacu.

Kalau sama saja maka return akan sama kan?

Tentu walau keinginan untuk lebih unggul dari IHSG, ada peluang hasil malah lebih buruk ketika alokasi yang berbeda tersebut kinerjanya lebih rendah dari IHSG. Bisa benar, bisa juga salah.

Penyebab kedua, walau secara umum reksa dana yang dimiliki berkorelasi tinggi dengan IHSG, tapi kinerja jeblok karena digerus oleh biaya. Seperti kita tahu percuma hasil tinggi kalau dikurangi dengan beban yang lebih besar. Secara net-net tentu menjadi rendah.

Kelompok ketiga yang mungkin luput dari pesta kinerja IHSG yang moncer saat ini adalah yang berinvestasi pada saham namun melakukannya melalui pembelian saham individual, baik untuk investasi maupun trading. Itu tentu satu pilihan rasional, yang di saat ini sepertinya juga atraktif karena bisa ikutan pamer screenshoot di medsos. Penyebabnya tentu karena kinerja saham yang dimiliki entah tidak seia sekata atau berperilaku berbeda dibanding IHSG.

Jadi mana yang lebih baik?

Hemat saya yang paling baik sejatinya adalah cara yang mampu membuat anda konsisten berinvestasi. Bukan mana yang paling optimal, ataupun malah yang paling maksimal memberikan return.

Yang mampu membuat konsisten stay invested di segala cuaca.

Cara yang baik tentu investasi dengan risiko yang terukur dan biaya terjaga untuk mencapai tujuan investasi. Karena percuma segala risiko dimitigasi kalau risiko terbesar tetap terjadi yaitu tujuan investasi tidak tercapai. Karena hal-hal yang tidak tidak perlu.

Untuk mencapai tujuan investasi melalui aset saham, pengelolaan risiko, menjadi penting. Sebagaimana dijelaskan di awal, fluktuasi harga saham secara umum seperti diwakili oleh IHSG dapat membuat ketakutan mereka yang tidak siap dan lari di saat yang tidak tepat. Kemudian kapok dan berhenti berinvestasi.

Karena walaupun paham penurunan -33% atau -37% yang terjadi di pasar, karena hindsight setelah kejadian sepertinya biasa saja. Namun saat mengalami di situasi yang riil, banyak yang kemudian ketakutan.

Melihat statistik naik turun harga historis dan mengalaminya sendiri merupakan dua hal yang sangat berbeda. Apalagi kalau ada faktor-faktor lain yang mengikuti. Kebutuhan uang sekolah anak, cicilan rumah, tagihan kesehatan maupun desakan darurat lain.

Dan itu sangat potensi terjadi pada dua kelompok terakhir, walaupun dalam hati paham akan perilaku saham. Yang menggunakan kendaraan reksa dana, lebih lagi yang membeli saham individual. Kalau reksa dana yang umumnya terdiversifikasi penurunan bisa lebih dari IHSG, maka risiko saham individual bisa lebih parah lagi, di atas 50-an%. Maret 2020 kemarin telah mengajarkan banyak investor tentang fakta tersebut.

Bagi beberapa orang pelajaran tersebut pahit dan membuat kapok, keluar dari saham. Namun sayangnya untuk beberapa yang lain pelajaran tersebut akan cepat terlupakan seiring waktu untuk kembali mencoba peruntungan untuk mengungguli pasar.

Ini persis seperti yang dikatakan Mike Tyson di atas, semua orang memiliki rencana namun semuanya akan buyar, terpaku, beku ketika mendapat pukulan telak di mulut. Karena itu sekali lagi, penting untuk mengendalikan risiko agar investor tidak terdesak di saat yang salah dan kemudian melakukan hal-hal yang dapat merugikan pencapaian tujuan keuangan. Tertinggal pesta.

Buat mereka yang memiliki aspirasi untuk mencapai tujuan keuangan dengan kelas aset saham, mungkin dapat mengikuti panduan umum berikut:

  1. Tentukan prioritas tujuan keuangan anda: Apakah harus dicapai, needs, pengennya tercapai, wants, enak kali ya kalo bisa dicapai, wishes, dan terakhir kalo ga terlaksana juga ga apa-apa sih, dreams.
  2. Tentukan horison investasi anda: kurang dari 1 tahun, kurang dari 3 tahun, 5 tahun, dan di atas 5 tahun, serta lebih panjang dari 10 tahun.
  3. Hitung nominal yang ingin dicapai. Sesuaikan dengan potensi kenaikan harga setiap tahun. Namun perlu diingat belum tentu sama dengan tingkat inflasi, tergantung yang ingin dicapai. Kenaikan biaya pendidikan tentu akan tinggi, bisa 15-20% per tahun. Sesuaikan.
  4. Gunakan kelas aset saham saja hanya untuk tujuan dengan prioritas wants, wishes dan dreams. Dengan horison investasi di atas 10 tahun.
  5. Untuk horison antara 5-10 tahun, diversifikasi dengan kelas aset lain, pasar uang dan pendapatan tetap, untuk meminimalisir downside risk.
  6. Kalau bisa, gunakan kendaraan reksa dana dan hindari membeli saham individual, terutama kalau anda masih kategori pemula dan memiliki likuiditas yang pas-pasan.
  7. Untuk reksa dana, teliti expense ratio dari RD yang anda incar, selain pertimbangan AUM dan kinerja. Expense ratio bisa menjadi indikator yang baik untuk kinerja ke depan.
  8. Pertimbangkan melakukan Dollar Cost Averaging (DCA), beli secara rutin di waktu yang sama. Setiap akhir bulan, misalnya. Walau terdapat potensi kurang optimal dibandingkan lump sum atau sekaligus, namun DCA dapat membantu secara psikologis untuk mengurangi regret atau penyesalan yang dapat mengganggu proses investasi anda. Selain itu DCA juga cocok bagi mereka yang memiliki pendapatan tetap bulanan.
  9. Sejalan dengan waktu, sesuaikan. Rebalance. Jadi kalau yang tadinya tujuan jangka waktu 10 tahun, apabila jangka waktunya tetap tentu setahun berlalu kemudian menjadi 9 tahun. Sesuaikan alokasi. Rebalancing juga merupakan cara yang baik dalam menerapkan strategi buy low, sell high.

Jadi, kelompok yang manakah anda?

Disclaimer sebagaimana page about author di blog ini.

Continue Reading

Investasi harus punya Tujuan

Sharing BI Talk episode 2 di YouTube bareng Oom Ijun, premiered di awal tahun ini.

That was fun!

Sekarang jamannya anak milenial tau tips investasi yang tepat, biar ngga kaya judul lagunya Khalid “Young, Dumb & Broke”. Setuju ngga? Jika ya, ketik “👍” di kolom komentar ya #SobatRupiah! Pengen masa depanmu lebih cuan, nonton BI Talk episode 2 bersama Tigor Siagian (Deputi Direktur Departemen Pengelolaan Devisa Bank Indonesia) sampe habis yah! #diSetiapMaknaIndonesia #SobatRupiah #BITalk #diSetiapMaknaIndonesia

Continue Reading

Kalau Bisa Mahal Kenapa Harus Murah?

Photo by William Iven on Unsplash

“Belajar Investasi Reksa Dana: Rp. 10.500.000. Rp. 3.500.000”

“Memulai Investasi Untuk Pemula Melalui Teknik Valuasi Fundamental”

“Kursus Dasar Investasi Bagi Pegawai Melalui Timing Menggunakan Analisis Teknikal”

Begitu kira-kira isi dan bahasa iklan, pengumuman atau jualan dengan berbagai variasinya yang umum ditemui dalam beberapa tahun terakhir. Belakangan ini di tengah pandemi COVID-19 sepertinya terasa lebih gencar dipasarkan.

Iklan-iklan dengan pesan yang selalu membuat saya miris.

Dalam bukunya yang terkenal dan laris mengenai psikologi persuasi berjudul “Influence”, Robert Cialdini menceritakan tentang kejadian perilaku turis di suatu tempat wisata yang berebutan dan memborong habis barang-barang tertentu di suatu toko souvenir. Yang menarik penyebabnya bukan diskon sebagaimana normalnya perilaku pembelian, namun karena pengumuman pada papan iklan di depan toko bahwa seluruh barang di rak tertentu harganya naik menjadi dua kali lipat dari harga aslinya. Lucunya pengumuman tersebut ternyata hasil kesalahan komunikasi antara pemilik toko dan pegawainya. Niat awal si pemilik toko sebenarnya ingin mendiskon setengah harga barang-barang tertentu yang setelah sekian lama sepertinya sulit terjual, dan mungkin dengan diskon barang-barang tersebut dapat segera menjadi cash. Namun karena terjadi salah komunikasi maka yang terjadi alih-alih ditulis diskon ½ harga malah menjadi iklan kenaikan harga 2x lipat. Yang mengejutkan barang-barang tersebut malah laris terjual.

Menurut Cialdini fenomena tersebut akibat penggunaan prinsip heuristik oleh turis-turis tersebut pada saat berbelanja di toko souvenir. Pengetahuan turis yang terbatas mengenai kriteria kualitas barang, terlebih di daerah yang baru, kemudian membuat turis-turis tersebut menggunakan asosiasi tertentu dalam keputusan pembelian. Asosiasi yang digunakan tentunya bahwa sesuatu yang mahal maka kualitasnya bagus. Dan sebaliknya apabila harganya murah, maka barang tersebut berkualitas rendah. Pemikiran heuristik tersebut kemudian memicu para turis untuk berperilaku memborong barang yang lebih mahal tersebut dengan asosiasi harga yang mahal pertanda akan barang berkualitas.

Heuristik, yang juga disebut “jalan pintas mental” atau mental shortcuts adalah proses efisiensi mental yang digunakan untuk membantu manusia memecahkan masalah, mempelajari konsep-konsep baru dan terlebih dalam mengambil keputusan. Karena manusia harus membuat keputusan dengan waktu, sumber daya mental dan informasi yang terbatas maka penggunaan jalan pintas mental dilakukan untuk menghemat waktu dan usaha. Dengan heuristik, otak bisa membuat keputusan lebih cepat dan lebih efisien, walaupun tentunya bisa berakibat pada pengambilan keputusan yang kurang tepat.

Cara berpikir dengan menggunakan model jalan pintas seperti itu juga sangat umum ditemui pada pelaku pasar keuangan, baik dalam menilai suatu produk, jasa maupun ketika melakukan keputusan investasi. Psikolog Amos Tversky dan Daniel Kahneman (1974) yang juga merupakan pionir behavioral finance menunjukkan bahwa manusia bergantung pada seperangkat cara heuristik ketika membuat keputusan investasi dengan bekal informasi yang tidak terlalu diyakini kebenarannya.

Penggunaannya yang luas di bidang investasi dapat dimaklumi terutama mengingat masih banyak masyarakat yang awam mengenai pasar keuangan berikut produk-produknya. Penggunaan mental shortcuts dalam bentuk asosiasi seperti mahal setara dengan bagus, usaha yang besar setara dengan hasil yang bagus sering ditemui saat masyarakat  melakukan aktivitas investasi. Indikator yang digunakan bermacam-macam, seperti fee pengelolaan dana yang tinggi, ataupun teknik, metode serta analisis yang harus njlimet dan terlihat canggih sebagai prasyarat untuk mendapatkan hasil pengelolaan yang baik.

Makanya kemudian tidak mengherankan banyak masyarakat awam saat ingin belajar berinvestasi kemudian menemui atau disodori dengan opsi penempatan pada manajer investasi yang memungut biaya relatif mahal.  Atau apabila lebih berminat melakukan secara mandiri kemudian didorong untuk lebih dulu mempelajari berbagai teknik analisis fundamental, teknikal dengan segala variasi dan istilah yang rumit, seperti contoh-contoh iklan di bagian awal tulisan ini. Seolah hasil investasi yang baik hanya bisa didapatkan melalui metode dan cara tersebut. Walaupun teori serta bukti empiris berulang menemukan dan membuktikan bahwa langkah dan prinsip dalam berinvestasi itu sederhana: dilakukan sejak dini, dilakukan secara rutin, memastikan diversifikasi, menekan biaya serendah mungkin dan sabar selama berinvestasi. Sementara itu melakukan timing, trading dengan segala teknik rumit di atas bukan hanya kemungkinan besar tidak manjur tapi juga merupakan “sekolah” yang sepertinya kemahalan.

Continue Reading